SYARI’AT DAN FIQIH

SYARI’AT, ialah hukum-hukum yang disyariatkan Allah untukk hamba-Nya, yang dibawa oleh seo-rang Nabi baik hukum-hukum tersebut berhu-bungan dengan cara mengerjakan perbuatan, yang biasa disebut dengan “hukum-hukum far-’iyyah ‘amaliyah” yang dapat dipelajari melalui ilmu fiqih. Atau berhubungan dengan cara “I’ti-qodiyah” yang biasa disebut dengan hukum-hukum pokok dan kepercayaan, yang dapat dipelajari melalui Ilmu Kalam. Syariat (Syara’) disebut juga “agama” (Ad-din atau Al-millah)

FIQIH, menurut bahasa adalah faham, atau memahami pembicaraan orang yang ber-bicara. Sedangkan menurut istilah Fiqih ia-lah ilmu yang menerangkan hukum syara’ yang amaliyah yang diambil dari dalil-dalil nya yang terperinci. Fiqih adalah ilmu yang dihasilkan oleh pikiran serta ijtihad (penelitian) yang memerlukan pemikiran dan perenungan.
BEBERAPA CIRI KHUSUS HUKUM ISLAM
Kewahyuan dasar-dasarnya yang umum
Pendasaran ketentuan dalam hukum islam dengan akhlaq dan agama.
Rangkapnya balasan bagi para pelang-garnya.
Bersifat collectivisme hukum islam.
DASAR-DASAR HUKUM ISLAM
Tidak memberatkan dan tidak banyaknya beban
Sifatnya berangsur-angsur dalam penen-tuan hukum
Sejalan dengan kebaikan orang banyak
Berdasarkan pada persamaan dan kea-dilan
PEMBAHASAN HUKUM DALAM USHUL FIQIH
HAKIM, yaitu orang yang menetapkan hukum atau menetapkan baik buruknya satu perbuat-an (dalam hal ini Allah).
HUKUM, yaitu sesuatu yang berasal dari ha-kim atau firman pembuat syara’ yang berhu-bungan dengan perbuatan orang dewasa (mu-kallaf) yang mengandung tuntutan.
MAHKUM FIIHI, yaitu perbuatan mukallaf yang berhubungan dengan hukum. Misalnya wajib, mandub (sunnat), haram, makruh, dan mubah.

4. MAHKUM ALAIHI, yaitu orang mukallaf (dewa-sa), dimana perbuatannya menjadi tempat ber-lakunya hukum Allah dan firman-Nya (subyek hukum). Misalnya wajibnya shalat hanya untuk orang yang telah mukallaf (dewasa) bukan di-peruntukkan bagi anak-anak atau orang gila, dsb.
5. AZIMAH DAN RUKHSOH
Azimah, ialah peraturan agama yang pokok dan berlaku umum sejak dari semula. Sedangkan
Rukhsoh, ialah peraturan tambahan yang dijalan kan berhubungan dengan adanya hal-hal yang memberatkan, sebagai pengacualian dari pera-turan-peraturan pokok
PEMBAGIAN HUKUM
Hukum Taklifi, meliputi :
a. Al-Ijab, yaitu firman yang menuntut sesuatu
perbuatan dengan tuntutan yang pasti.
Dalam hukum Fiqih biasa disebut dengan
istilah Wajib.
b. An-Nadab (anjuran/sunnat), yaitu firman
yang menuntut sesuatu perbuatan dengan
tuntutan yang tidak pasti. Dalam hukum
Fiqih biasa disebut dengan istilah Sunnat.

c. At-Tahrim (larangan), yaitu firman yang menuntut
untuk meninggalkan suatu perbuatan dengan tuntutan
yang pasti. Dalam hukum Fiqih biasa disebut dengan
istilah Haram
d. Al-Karohah, yaitu firman yang menuntut untuk me-
ninggalkan suatu perbuatan dengan tuntutan yang
tidak pasti. Dalam hukum Fiqih biasa disebut dengan
istilah Makruh
e. Al-Ibahah (kebolehan), yaitu firman yang memboleh-
kan sesuatu untuk diperbuat atau ditinggalkan. Dalam
hukum Fiqih biasa disebut dengan istilah Mubah

Hukum Taklifi di atas dalam istilah Ushul Fiqih biasa dise-
sebut dengan “AL-AHKAMUL KHOMSAH” (Hukum yang
lima)

WAJIB, ialah perbuatan yang bila dikerjakan memperoleh pahala, namun bila ditinggalkan mendapat dosa.
SUNNAT, ialah perbuatan yang bila dikejakan memperoleh pahala, namun bila ditinggalkan tidak berdosa
HARAM, ialah perbuatan yang bila dikerjakan mendapat dosa, namun bila ditinggalkan akan mendapat pahala.
MAKRUH, ialah perbuatan yang bila dikerjakan tidak berdosa, namun bila ditinggalkan akan memperoleh pahala.
MUBAH, ialah perbuatan yang bila dikerjakan atau ditinggalkan tidak berpahala maupun ber-dosa (boleh memilih)

2. Hukum Wadh’i, ialah firman yang menja-dikan sesuatu sebagai sebab adanya yang lain (musabab), atau sebagai syarat yang lain (masyrut), atau sebagai penghalang (amni’) yang lain. Hukum wadh’i terbagi atas :
a. Sebab;
b. Syarat; dan
c. Mani’ (penghalang)
DALIL-DALIL ATAU SUMBER-SUMBER HUKUM DALAM HUKUM ISLAM
Dalil atau sumber hukum dalam hukum Is-
lam terdiri dari 12 macam. Empat diantara-
nya telah disepakati oleh sebagi besar ula-
ma dijadikan sebagai sumber hukum, yaitu :
a. Al-Kitab (Al-Qur’an)
b. As-Sunnah (Al-Hadits)
c. Al-Ijma’ (Kesepakatan para ulama)
d. Al-Qiyas

Delapan macam lainnya masih diperdebatkan oleh para ulama sebagai sumber hukum da-lam hukum Islam, yaitu :
a. Al-Istishhab
b. Al-Istihsan
c. Al-masholih Al-Mursalah
d. Al-U’rf
e. Mazhahibus Shohabi
f. Syari’at orang sebelum kita
g. Sadduddzara’i
h. Dalalah Iqtiran
AL QUR’AN
AL-QUR’AN berasal dari lafal “ qoro’a ” yaqra’u, qur’aanan yang berarti mengumpulkan dan menghimpun huruf-huruf serta jata dari suatu bagian kebagian lain secara teratur. Keseluruhan Al-Qur’an terdiri dari 30 juz, 114 ayat, 6.666 ayat dan 325.345 huruf, yang di turunkan berangsur-angsur selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari yang dimulai pada tanggal 17 Ramadhan 611 M sampai 9 Zulhijah 674 M.
DI TINJAU DARI SUDUT TEMPATNYA, AL-QUR’AN TURUN DI DUA TEMPAT, YAITU :

DI MEKKAH ( SUROH MAKKIYAH )
Berisi tentang kepercayaan atau ketuhanan, hablumminallah, ayat-ayatnya pendek dan ditujukan kepada seluruhh umat, banyaknya sekitar 2/3 seluruh ayat-ayat al-qur’an.

DI MADINAH ( SUROH MADINIYAH )
Berisi tentang hablumminannas, larangan, anjuran, hukum-hukum dan syari’at islam, akhlaq, hal-hal mengenai keluarga, masyarakat, pemerintahan, perdagangan, hubungan manusia dengan hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, air dan sebagainya.
FUNGSI AL-QUR’AN
Sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa
Sebagai sumber hukum
Berhubungan dengan masalah aqidah
Hukum yang mengatur hubungan
Berhubungan dengan akhlaq manusia.
Sebagai pedoman hidup
Al-qur’an dijadikan sebagai pedoman hidup karena memiliki kelebihan dan keistimewaan. Adapun kelebihan dan keistimewaan Al-qur’an adalah :
Mengandung Ajaran ketuhanan yang ada pada kitab sebelumnya
Ditujukan kepada semua umat sepanjang masa
Sebagai pedoman hidup abadi
Dengan bahasa yang indah, mudah dibaca, diingat dan dipahami

HADIST
Hadist menurut bahasa artinya baru atau kabar, sedangkan menurut istilah hadist adalah segala tingkah laku Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapannya.

Hadist Nabi Muhammad dibagi menjadi 3 bentuk yaitu :
Hadist Qauliyah ( Perkataan )
Hadist Fi’liyah ( Perbuatan )
Hadist Taqririyah ( Ketetapan )
Hadist di Tinjau Dari Periwayatannya
Hadist Mutawattir
Hadist yang memiliki banyak sanad (sandaran/tempat bersandar) dan mustahil perawinya berdusta atas Nama Nabi Muhammad SAW.
Hadist Ahad
Hadist Masyur
Hadist Azis
Hadist Garib
IJTIHAD, ITTIBA’ dan TAQLID
Ijtihad, ialah mencurahkan atau menggunakan seluruh kemam-puan untuk mendapatkan suatu hukum syara’ mengenai suatu ma salah dengan jalan istimbat dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
setiap orang boleh berijtihad asalkan memenuhi persyaratan se-perti di bawah ini :
-> sudah baligh, beraqal, dan memiliki intellegensia.
-> mengetahui dalil aqal dan kehujahannya.
-> mengerti dan mangetahui bahasa arab.
-> mengetahui ayat dan hadits-hadits hukum
-> mengetahui ilmu ushul fiqih
-> mengetahui masalah Nasikh – Mansukh
-> mengetahui hukum yang telah disepakati secara ijma’
-> mengetahui asbabun nuzul suatu ayat dan asbabul wurud
suatu hadits.
-> mengetahui ma’na dan jenis hadits shohih dan dho’if

2. Ittiba’, ialah menerima perkataan orang lain de-
ngan mengetahui sumber dan alasan perkataan
tersebut. Ittiba’ adalah hal yang diharuskan, bah
kan hukumnya wajib bagi setiap muslim-musli-
mah, terutama ittiba’ kepada Nabi SAW. Agar se-
tiap perbuatan / ibadat sesuai dengan tuntunan
Allah dan Rasulnya.
Demikian pula ittiba’ kepada para ulama sebagai
pewaris Nabi SAW. Dengan cara bertanya sesua-
tu perbuatan yang belum dipahaminya.

2. Ittiba’, ialah menerima perkataan orang lain de-
ngan mengetahui sumber dan alasan perkataan
tersebut. Ittiba’ adalah hal yang diharuskan, bah
kan hukumnya wajib bagi setiap muslim-musli-
mah, terutama ittiba’ kepada Nabi SAW. Agar se-
tiap perbuatan / ibadat sesuai dengan tuntunan
Allah dan Rasulnya.
Demikian pula ittiba’ kepada para ulama sebagai
pewaris Nabi SAW. Dengan cara bertanya sesua-
tu perbuatan yang belum dipahaminya.

3. Taqlid, iakah menerima pendapat atau mengikuti perbuat-
an orang lain tanpa mengetahui dasar pegambilannya.
Taqlid dihukumkan boleh, bagi orang awam (orang bia-
sa) yang tidak mengerti cara-cara mencari hukum syari’at
oleh karenanya untuk sementara waktu boleh sambil ia
menuntut ilmu.
Namun bagi orang-orang yang pandai dan sanggup men-
cari sendiri hukum-hukum syari’at tidak dibolehkan, dan ia
harus berijtihad sendiri.

Taqlid dihukumkan haram, bila orang yang ditaqlidi mem
perdulikan ayat-ayat Qur’an dan hadits-hadits mutawatir
atau ahad. Demikian pula haram bertaqlid kepada orang
yang tidak jelas kemampuannya untuk berijtihad.